Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam

Memperdalam dan meningkatkan konektivitas Uni Eropa dan Indonesia

29/09/2017 - 17:38
News stories

Dalam rangka kunjungan saya ke Indonesia, 26-29 September, saya memiliki satu tujuan yang jelas: semakin meningkatkan dan memperdalam konektivitas Uni Eropa dengan Indonesia, ASEAN dan kawasan ini.

Artikel opini ini diterbitkan di koran Bisnis Indonesia

 

Memperdalam dan meningkatkan konektivitas Uni Eropa dan Indonesia

Oleh Violeta Bulc, Komisioner Transportasi Uni Eropa

Dalam rangka kunjungan saya ke Indonesia, 26-29 September, saya memiliki satu tujuan yang jelas: semakin meningkatkan dan memperdalam konektivitas Uni Eropa dengan Indonesia, ASEAN dan kawasan ini.

Pertama, saya akan berpartisipasi dalam pertemuan tingkat Menteri Transportasi Asia-Eropa (ASEM TMM4) di Bali. Saya senang Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan ini karena Indonesia merupakan negara terpadat keempat di dunia dan negara kepulauan terbesar di dunia, dan oleh karena itu, Indonesia merupakan pemain kunci dalam konteks konektivitas. Mengapa pertemuan ini begitu penting? Cukup sederhana: karena kita membutuhkan solusi global untuk menghadapi tantangan global. Dan di dunia di mana terdapat pihak-pihak yang mempertanyakan manfaat kerja sama internasional, maka para pelaku yang memiliki pemikiran yang serupa harus bersama-sama pro-aktif untuk mendorong kemajuan dan memberikan kepemimpinan itu.

Ke-53 mitra yang tergabung dalam ASEM merepresentasikan 60% perdagangan global, 60% PDB global dan 60% populasi global. Hal ini berarti suatu kerja sama multilateral dalam skala besar. Dan ini sangat penting untuk sektor transportasi. Banyak negara anggota ASEM yang memiliki visi "konektivitas" yang sangat ambisius, maka sangatlah penting untuk kita mengkoordinasikan dengan baik berbagai upaya kita. Pada dasarnya, keberhasilan kita akan bergantung pada tiga prinsip umum. Kita harus merangkul prinsip "inklusifitas" untuk memastikan bahwa semua negara mendapatkan keuntungan untuk pembangunan ekonomi masing-masing. Kedua, prinsip "timbal-balik" (resiprositas) menjadi unsur penting terutama dalam hal akses pasar, berbagi pengetahuan (know-how), ketaatan terhadap peraturan-peraturan dan adanya kesamaan derajat (level-playing field). Dan terakhir, prinsip "kesinambungan" harus ada agar kita dapat mengembangkan proyek-proyek yang layak dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan. Jika kita menginginkan transportasi berkembang, maka kita harus menghargai Perjanjian Paris sehingga emisi dari sistem transportasi menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi penyebab dari banyaknya permasalahan.

Uni Eropa dan ASEAN bukan hanya pemain kunci di ASEM. Secara bilateral, kita menunjukkan kepemimpinan global. Saat ini Uni Eropa dan ASEAN sedang menegosiasikan perjanjian transportasi udara komprehensif (CATA) yang akan menjadi kesepakatan antarkawasan (block-to-block) pertama dan secara substansial akan mempererat hubungan penerbangan kita. Kita juga bekerja sama erat dalam hal keselamatan penerbangan serta menunjukkan kepemimpinan kita di forum internasional dalam hal mengurangi emisi penerbangan dan maritim. Di sela-sela pertemuan ASEM TMM4 di Bali, kita akan mendukung pula peluncuran Dialog Transportasi UE-ASEAN yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kerja sama kita pada semua moda transportasi.

Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pemerintah berupaya memenuhi visinya dibidang kelautan yakni menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Sangat wajar hal ini menjadi visi mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau yang terbentang lebih lebar daripada samudera Atlantik. Sementara, Uni Eropa dikelilingi oleh dua samudera, empat lautan dan, karena ada dari wilayahnya yang berada diluar benua Eropa, juga hadir di Samudera Hindia dan Laut Karibia. Jalur pelayaran Uni Eropa mewakili 60% lalu lintas kontainer dunia. Tapi samudera dan laut seharusnya tidak bisa dan tidak dapat dikelola tanpa kerja sama. Uni Eropa menjalankan tanggung jawabnya dalam mengamankan rute internasional, seperti yang bisa kita lihat dengan adanya operasi angkatan laut ATALANTA di Samudra Hindia.

Uni Eropa juga bertekad untuk bekerja sama lebih erat dengan mitra-mitra utamanya seperti Indonesia. Selama kunjungan saya ke Jakarta, saya akan menemui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan. Kita akan berupaya meningkatkan kerja sama bidang keselamatan maritim. Saya juga akan pimpin konferensi bisnis mengenai Solusi Transportasi Berkelanjutan dan Inovatif. Saya tahu warga Jakarta banyak yang menantikan selesainya proyek MRT! Di Eropa, kami menerapkan solusi transportasi berkelanjutan untuk kota-kota, dan ini mencakup Sistem Transportasi Cerdas, digitalisasi dan transportasi umum yang ramah lingkungan. Uni Eropa juga menjadi pemimpin dalam hal keselamatan di jalan raya. Banyak hal yang dapat kita saling berbagi dan banyak juga bidang untuk memperdalam kerja sama. Saya juga akan ambil bagian dalam diskusi panel mengenai peran perempuan di sektor transportasi.

Dipandang dari sisi transportasi dan konektivitas, kita tentunya hidup di masa yang sangat menarik! Pada tahun 2030, diperkirakan 60% penduduk akan tinggal di daerah perkotaan. Lalu lintas udara diproyeksikan tumbuh menjadi 7,2 miliar penumpang pada 2035 atau hampir dua kali lipat dibanding angka tahun ini yaitu sebesar 3,8 miliar pelancong udara. Ada juga estimasi bahwa dunia perlu menginvestasikan infrastruktur sebesar $ 3,3 triliun, sebagian besar untuk kebutuhan transportasi, dan ini hanya untuk memenuhi tingkat pertumbuhan berdasarkan perkiraan saat ini. Teknologi inovasi – misalnya kendaraan otomatis dan pesawat tak berawak – akan merevolusi cara kita melakukan perjalanan tetapi juga akan membawa banyak tantangan. Uni Eropa bertekad untuk bekerja sama dengan pihak lain untuk menemukan solusi konektivitas yang berkelanjutan. Oleh karenanya, saya sangat menyambut baik kerja sama yang lebih erat dengan ASEM, ASEAN dan tentunya Indonesia!

Languages:
Bagian Editorial: