Delegation of the European Union
to Indonesia and Brunei Darussalam

Diskusi "Breaking Gender Barriers": Sebuah Seruan untuk Memutus Hambatan Berbasis Gender

Jakarta, 16/03/2017 - 10:39, UNIQUE ID: 170316_11
Press releases

Hari ini, UN Women Indonesia bersama dengan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Komnas Perempuan menyerukan ajakan untuk memutus hambatan berbasis gender yang menghalangi perempuan dan anak perempuan untuk dapat memenuhi potensi mereka seutuhnya.

Sebuah Seruan untuk Memutus Hambatan Berbasis Gender

 

Jakarta, 16 Maret 2017 – Hari ini, UN Women Indonesia bersama dengan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Komnas Perempuan menyerukan ajakan untuk memutus hambatan berbasis gender yang menghalangi perempuan dan anak perempuan untuk dapat memenuhi potensi mereka seutuhnya.

Hari Perempuan Internasional tahun ini mengambil tema “Women in the Changing World of Work: Planet 50-50 by 2030”/ “Perempuan dalam Perubahan Dunia Kerja: Planet 50-50 di 2030”, dengan fokus pada perubahan perkembangan dunia kerja, seperti globalisasi, revolusi teknologi dan digital, yang memberikan dampak signifikan bagi perempuan khususnya dalam akses terhadap pekerjaan.

Vincent Guérend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, menegaskan: “Perjuangan demi hak-hak dan pemberdayaan perempuan bukan hanya merupakan kewajiban kita secara moral, sosial atau hukum. Ini juga merupakan prasyarat untuk Pembangunan Berkelanjutan dan untuk mengatasi tantangan-tantangan lain, termasuk kemiskinan, ketimpangan, ketahanan pangan, kesehatan dan pendidikan. Uni Eropa terus berkomitmen untuk memutus rantai diskriminasi gender dan berupaya menciptakan dunia di mana semua orang mampu memenuhi potensinya masing-masing.”

“Secara global, 50% perempuan di usia kerja terepresentasikan di angkatan kerja. Jumlah ini lebih sedikit dari jumlah laki-laki usia kerja yang terepresentasi di angkatan kerja sebesar 76%. Adapun masih banyak perempuan yang berkerja di sektor perekonomian informal, oleh karenanya jumlah perempuan yang melakukan pekerjaan tanpa upah, 2,5 kali lebih banyak dari laki-laki,” ucap Lily Puspasari, Officer in Charge UN Women Indonesia.

“Untuk merubah situasi ketidaksetaraan tersebut, maka diperlukan upaya dari berbagai pihak. Antara lain, upaya pemerintah dalam mempromosikan partisipasi perempuan dalam ekonomi, dukungan dari organisasi kemasyarakatan, serta suara dari para perempuan untuk mencari solusi bersama atas hambatan partisipasi perempuan. Namun, yang tidak kalah penting adalah merubah pemikiran. Pemikiran bahwa, ada peran yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan, sektor yang dapat dan tidak dapat dimasuki oleh perempuan, serta batasan dalam mengembangkan potensi. Perubahan ini harus dilakukan secara bersamaan, di rumah, di sekolah dan dalam lingkungan sekitar, disamping dukungan dari segi pendidikan dan peran media,” tambah Lily.

Memastikan bahwa perempuan berdaya secara ekonomi di tengah perkembangan dunia, artinya harus memastikan tidak adanya kesenjangan upah antar gender, mengakui pekerjaan domestik dan informal, memastikan kebijakan ekonomi yang responsif gender, bebas dari diskriminasi dan hambatan berbasis gender, memiliki akses untuk berbagai pilihan karir, serta memiliki hak untuk memilih pekerjaan di luar pilihan konvensional.

“Pelibatan perempuan di ruang publik dan ruang domestik yang lebih terlindungi sebagai hasil perjuangan panjang gerakan feminis, mulai tampak buahnya. Nyaris tidak ada ruang yang selama ini disesaki laki-laki, yang tidak dapat ditembus. Namun, ketika buah yang ranum siap dipetik dan dinikmati, ulat ulat buah siap menggerogoti dan menggagalkannya. Ulat ulat itu adalah kebijakan hukum yang masih diskriminatif, stereotip gender, terganggunya status quo, kekerasan terhadap perempuan yang semakin beragam dan meluas, menguatnya fundamentalisme yang sangat bersemangat atas nama agama untuk meredomestifikasi perempuan dan tantangan lain, baik internal maupun eksternal. Tugas selanjutnya adalah mengobati, agar hasil perjuangan itu segera bisa dipetik kembali,” ujar Imam Nahe’i, Komisioner Komnas Perempuan.  

Sejalan dengan tema Hari Perempuan Internasional, acara ini mengangkat pembicara yang berhasil mendobrak hambatan berbasis gender dalam pilihan karirnya. Para panelis adalah Mercy Chriesty Barends, Anggota DPR Republik Indonesia, Sri Widowati, Country Director Facebook Indonesia dan Dr. Hj. Nirwana, S.H., M. Hum, Ketua Pengadilan Negeri Tangerang.

 

---------------------------------------------------

 

Mengenai UN Women

UN Women adalah Badan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Penggerak global untuk hak-hak perempuan dan anak perempuan. Di Indonesia, UN Women berdiri sejak tahun 1995, dengan nama UNIFEM, untuk mengakselerasi kemajuan terhadap hak perempuan. Landasan kerja UN Women adalah nilai dasar bahwa setiap perempuan mempunyai hak untuk hidup bebas dari kekerasan, kemiskinan, dan diskriminasi, dan kesetaraan gender adalah prasyarat untuk mencapai pembangunan global.

 

Mengenai Kerjasama antara Uni Eropa dan UN Women

Uni Eropa dan UN Women membentuk kemitraan strategis di tahun 2012. Kemitraan ini diperkuat di tahun 2016 dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama (MoU) untuk bekerja bersama dan  meningkatkan upaya untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di seluruh dunia. Kerjasama ini termasuk dialog kebijakan bersama dan pertukaran pengetahuan dan pengalaman, advokasi dan program bersama.

 

Mengenai Komnas Perempuan

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) adalah Lembaga Negara Independen yang berfungsi sebagai Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia dengan mandat spesifik, yakni penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Komnas Perempuan dibentuk sebagai respon Negara atas maraknya kekerasan seksual dalam Tragedi Mei 1998. Komnas Perempuan dibentuk melalui Keppres No 181 tahun 1998, yang diperbaharui melalui Perpres No 65 tahun 2005.

 

Seksionet editoriale:

Autori